Kalau kita melayangkan pandangan kita ke langit malam nan cerah, mata kita akan bersua dengan kerdipan bintang-bintang nun jauh di sana yang seolah-olah memanggil kita untuk memahami dan menikmati keindahan yang ditebarkannya. Begitu jauhnya bintang-bintang itu, sehingga kita bertanya-tanya dalam hati: seberapa luaskah semesta raya ini? Lain waktu kita mengamati embun pagi hari yang satu-satu mulai lenyap diterpa panasnya sinar mentari yang merayap perlahan mendaki kaki langit. Kemanakah perginya tetes-tetes embun itu? Seberapa kecilkah materi dasar yang menyusun titik-titik air nan renik itu?
    Di sini kosmos besar dan kosmos kecil bertemu dengan manusia ada di antaranya. Bertanya dan bertanya dalam ketidaktahuan. Misteri menggelitik batinnya, adakah ia sedemikian penting sehingga seluruh eksotika ini dihadirkan di hadapannya oleh Sang Maha Pencipta.
      Lalu, apalagi yang lebih menarik dari pertanyaan paling mendasar yang senantiasa bergaung dalam sanubari kita: Dari manakah alam semesta (tentu termasuk kita manusia) berasal, dan ke manakah dia (dan kita) akan pergi? Bagaimana dan mengapa semesta ada? Semesta ini abadi atau akan berakhir? Seandainya berakhir, bagaimanakah semesta berakhir? Apa yang ada dan terjadi setelah akhir semesta? Bolehkah kita mengatakan akhir itu analog dengan kiamat? Seandainya semesta memiliki suatu awal, apa yang ada dan terjadi sebelum awal semesta? Lalu, bagaimanakah sifat waktu yang membuat hadirnya awal dan akhir, sebelum dan sesudah? Dan mengapa kita ada di sini untuk menyaksikan dan merenungkan kesemuanya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang harus kita gumuli dan renungkan kita dalam keseharian kita. Kita memang bergerak untuk mencoba mendapatkan jawabannya, namun sesungguhnya yang paling membuat kita tergetar dengan kegembiraan yang meluap adalah kalau kita semakin menyadari makna pertanyaan kita sendiri.