EINSTEIN dan Besso duduk di perahu kecil yang ditambatkan dengan jangkar di tengah Aare. Besso menggigit sandwich kejunya, sementara Einstein mengisap pipanya dan dengan perlahan melempar umpan.
     "Apakah kau pernah menangkap sesuatu di sini, di tengah Aare?" tanya Besso. Ia tak pernah memancing bersama Einstein sebelumnya.
      "Tak pernah," jawab Einstein, sembari melanjutkan melempar umpan.
      "Mungkin sebaiknya kita pindah agak ke tepi, dekat alang-alang itu."
    "Bisa saja," ujar Einstein. "Disana aku juga tak pernah menangkap apa pun. Kau masih mempunyai sandwich di tasmu?"
     Besso mengulurkan sandwich dan bir pada Einstein. Ia sedikit merasa bersalah karena telah meminta Einstein agar  mengajaknya memancing di Minggu sore ini. Padahal, Einstein berencana memancing sendiri, untuk merenung.
     "Makanlah," kata Besso. "Kau perlu beristirahat sejenak setelah menarik-narik joran begitu."
     Einstein mengulurkan jorannya ke pangkuan Besso dan mulai mengunyah. Untuk sementara, dua teman itu berdiam diri. Satu perahu motor kecil melintas dan membuat ombak sehingga perahu yang mereka duduki terombang-ambing.
      Setelah makan siang, Einstein dan Besso memindahkan kursi-kursi yang ada di perahu dan berbaring dengan mata menatap langit. Hari ini, Einstein menyerah dengan urusan memancing.
       "Bentuk apa yang kau lihat di awan-awan itu, Michele?" tanya Einstein.
       "Aku melihat seekor domba mengejar orang yang sedang murung."
      "Kau manusia yang sangat praktis, Michele." Einstein menatap awan, tetapi pikirannya melayang pada proyeknya. Ia ingin bercerita pada Besso tentang mimpi-mimpinya, tetapi ia tidak bisa memulai.
    "Aku pikir kau akan berhasil dengan teorimu tentang waktu," kata Besso. "Dan ketika itu terjadi, kita akan memancing bersama dan kau bercerita padaku tentang hal itu. Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskannya padaku, di perahu ini."
    Einstein tertawa, dan awan-awan bergoyang karena tawanya.