KARYA MATHORI A ELWA
Posted by Audra Muhammad on Tuesday, May 28, 2013
234
(2)
serigala-serigala menunggang kuda
politik serupa bom molotov dan mitraliur
berabad-abad aku menguap
menampik bintang-bintang dan patung
bersujud menjulurkan tubuh hingga aku
menghancurkan diri sendiri
meledak sendirian
(3)
ada sepasukan berani musnah
membakar menggeliat menjilat-jilat
menyerbu dari got-got dan luka lama
menggempur negerimu
menggempur hatimu
tak ada laporan rahasia
tak ada upacara
tak ada rapat raksasa
tak ada orkes dan berita
(4)
di negeri paling ringsek yang kutemukan
gadis-gadis manis berperawakan raksasa
merayuku
ada lolong orang dalam jiwaku
menghardik memekik
meringkik-ringkik
minta dikawinkan
SURAT MALANG MELINTANG
(2)
serigala-serigala menunggang kuda
politik serupa bom molotov dan mitraliur
berabad-abad aku menguap
menampik bintang-bintang dan patung
bersujud menjulurkan tubuh hingga aku
menghancurkan diri sendiri
meledak sendirian
(3)
ada sepasukan berani musnah
membakar menggeliat menjilat-jilat
menyerbu dari got-got dan luka lama
menggempur negerimu
menggempur hatimu
tak ada laporan rahasia
tak ada upacara
tak ada rapat raksasa
tak ada orkes dan berita
(4)
di negeri paling ringsek yang kutemukan
gadis-gadis manis berperawakan raksasa
merayuku
ada lolong orang dalam jiwaku
menghardik memekik
meringkik-ringkik
minta dikawinkan
SURAT MALANG MELINTANG
Sejak menulis surat bertinta air mata, sebuah surat sakti penggetar arsy, anak itu bopeng-bopeng, tak dapat bicara. Memar oleh luka. Luka oleh memar. (Membawa oleh-oleh memar dan luka). Hati yang teriris ridha. Matahari tak dapat menolong, apalagi penduduk desa, kota, propinsi, negara, malaikat. Dendam kesumat membuat semua berakhir musnah. Kebakaran tak dapat ditunda. Dihapusnya ratusan nama tak mudah-mudah, tak semudah menemukan dir dalam kubur. Anak-anak kami penjara dengan kata-kata jorok dan amarah. Ekonomi dan spiritualitas memisahkan diri dalam rumahnya. Sendiri. Sendiri. (Tanpa istri lagi?) Segerombolan pasukan bersenjata Allah mengamuk. Pembunuhan tak dapat dibendung. Agama adalah baju partai politik, bukan darah bukan jiwa. Semua berakibat semua terlibat dalam takdir. Ibunda tak lagi mengeluh. Dilepasnya anak panah kasih bagi anaknya yang tak pernah pulang. Bumi tersedu, pilu memanggul mayat aku. Langit menjerit menelan erangan hawa (nafas) nafsuku. Kiblat berjungkirbalik sesuai mimpi-mimpi. "Indahnya para penipu. Indahnya para penipu. Indahnya para penipu," begitulah wiridku. Sedangkan dalam sarang jiwaku masih mengeram gagak kepalsuan menampilkan diri sebagai merpati beranak-pinak janji, bercucu sok suci, bercicit susah, bersaudara air mata, berlaut bersamudera, berombak bergulung-gulung, bergemuruh mohon ampun...
Tertanda:
Mathori Alwustho
bin Moh. Abu Muslim
bin abdul Qodir
(1)
kuda-kuda hitam menyalak
dalam gelombang masyarakat yang gaduh
air mata membanjir dari pusat semedi
batu-batu pecah
semesta mengheningkan cipta
gelisah muntah
membelah
laut memerah
Tertanda:
Mathori Alwustho
bin Moh. Abu Muslim
bin abdul Qodir
(1)
kuda-kuda hitam menyalak
dalam gelombang masyarakat yang gaduh
air mata membanjir dari pusat semedi
batu-batu pecah
semesta mengheningkan cipta
gelisah muntah
membelah
laut memerah