METAFISIKA
Posted by Audra Muhammad on Friday, April 12, 2013
Sekitar 400-500 tahun yang silam, pertanyaan yang mendasar tentang 'semesta' dianggap berada di luar kawasan yang boleh disimak oleh sains. Newtao misalnya, berupaya menjelaskan tingkah laku segala hal di dalam semesta seperti penampakannya. Pada mulanya, Newton tidak berusaha untuk menjelaskan bagaimana atau mengapa semesta ada. Namun, saat ini wilayah kajian sains sudah merambah jauh ke dalam topik-topik yang dulunya hanya boleh disentuh oleh para filsup dan teolog. Fisika modern sedang berjalan di atas jalur untuk menyingkap realitas alamiah, sifat hidup, sampai asal mula semesta dan kehidupan.
Lalu apa batasan yang jelas yang membedakan sains dan filosofi? Metafisika yang dulunya merupakan studi filosofi sudah menjadi bagian dalam fisika saat ini. Dengan demikian batasan tersebut sudah sedemikian kabur. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Untuk itu, kita harus mencoba untuk menengok sejarah pemikiran sains dengan kembali ke masa Aristoteles.
Diantara banyak tulisan Aristoteles tentang filosofi dan sains terdapat dua karyanya yang sangat erat kaitannya dengan pencarian pemahaman tentang sifat semesta. Yang pertama adalah Physica (Fisika) dan yang kedua adalah Metaphysica (metafisika) yang akhirnya, saat ini telah menjadi bagian dari sesuatu yang disimak fisika. Sebagai contoh, pada tingkatan yang mendasar, partikel subatomik seperti elektron dan proton, sesuatu yang benar-benar tidak memiliki keberadaan riil bila tidak dipantau.
Sementara itu dalam tulisan Stephen Hawking yang berjudul The Edge of Space-Time (Tepian Ruang-Waktu). Beliau menulis bahwa saat ini, para fisikawan memodelkan semesta dengan dua teori parsial dasar, yakni teori relativitas umum dan mekanika kuantum.
Sekelompok mahasiswa fisika di Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat (USA) pernah menampilkan tableau singkat-singkat. Mereka mengangkat sebuah peti mati besar yang ditutup selembar kain hitam. Ketika kain disingkap tampak tulisan besar berbunyi: 'Physics has done.' Ya, fisika sudah selesai, telah berakhir. Tetapi, benarkah demikian?
Lalu apa batasan yang jelas yang membedakan sains dan filosofi? Metafisika yang dulunya merupakan studi filosofi sudah menjadi bagian dalam fisika saat ini. Dengan demikian batasan tersebut sudah sedemikian kabur. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Untuk itu, kita harus mencoba untuk menengok sejarah pemikiran sains dengan kembali ke masa Aristoteles.
Diantara banyak tulisan Aristoteles tentang filosofi dan sains terdapat dua karyanya yang sangat erat kaitannya dengan pencarian pemahaman tentang sifat semesta. Yang pertama adalah Physica (Fisika) dan yang kedua adalah Metaphysica (metafisika) yang akhirnya, saat ini telah menjadi bagian dari sesuatu yang disimak fisika. Sebagai contoh, pada tingkatan yang mendasar, partikel subatomik seperti elektron dan proton, sesuatu yang benar-benar tidak memiliki keberadaan riil bila tidak dipantau.
Sementara itu dalam tulisan Stephen Hawking yang berjudul The Edge of Space-Time (Tepian Ruang-Waktu). Beliau menulis bahwa saat ini, para fisikawan memodelkan semesta dengan dua teori parsial dasar, yakni teori relativitas umum dan mekanika kuantum.
Sekelompok mahasiswa fisika di Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat (USA) pernah menampilkan tableau singkat-singkat. Mereka mengangkat sebuah peti mati besar yang ditutup selembar kain hitam. Ketika kain disingkap tampak tulisan besar berbunyi: 'Physics has done.' Ya, fisika sudah selesai, telah berakhir. Tetapi, benarkah demikian?