Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi & Orde positif.
Ada sebuah boneka yang didalam bahasa Cina disebut Pu Tao Ong, artinya tidak bisa jatuh. Kemana saja boneka itu didorong, selalu saja dia akan kembali ke posisi semula. Hal ini disebabkan boneka itu alasnya berat dan badannya sangat ringan. Dijungkir-balikkan pun dia tetap akan tegak kembali. Jadi boneka itu mempunyai daya keseimbangan yang tinggi sekali. Berbeda sekali dengan sifat tiang yang kita pancangkan tegak lurus. Bila oleh sesuatu sebab tiang itu miring sedikit, maka dia akan semakin doyong dan semakin cepat rubuh. Keseimbangan tiang pancang dan boneka itu berbeda secara principal. Yang satu tahan terhadap tarikan ke arah ekstrim kiri maupun kanan karena selalu kembali ke tengah, sedangkan yang lain adalah justru menjadi makanan empuk bagi ekstrem kiri maupun kanan.
Bahaya ekstrim tidak cukup ditangkal dengan ceramah, penataran tentang bahaya serta akibat-akibatnya atau malahan dengan menanamkan sikap kaku ekstrem tengah seperti tiang pancang. Masyarakat harus diajar dan diajak mengalami sendiri pentingnya balance dalam hidup fisik dan rohaninya. Baru dengan demikian akan tercipta ketahanan yang tangguh terhadap bahaya ekstrimisme dari manapun datangnya. Dari pengalaman belajar Pancasila bertahun-tahun, tampak jelas ternyata bahwa orang yang memandang Pancasila dengan kaku, biasanya secara rohani juga kurang supel dan mereka inilah yang sering bersikap ekstrem dalam pergaulan sehari-harinya. Kalau kita menanamkan sikap kestabilan tiang pancang, maka pada akhirnya yang sibuk adalah kita sendiri, karena kita harus selalu mengukur dan segera meluruskan kembali bila kita melihat suatu bagian dari masyarakat mulai sedikit miring. Pekerjaan kita pada akhirnya akan sia-sia seperti orang yang berusaha menjaring angin.
Semoga suatu saat orde reformasi mencapai tujuannya dan berakhir dan muncullah Orde POSITIF yang mengembalikan keluhuran dan kesaktian PANCASILA dan kemurnian UUD 1945 pada tempatnya. I see you when we get there….!!