Dalam Hening Kutermangu

June 16, 2013

            Dalam hening ku termangu, sendiri setiap pagi, menyepi. Mengenang dia yang telah pergi. Akankah dia kembali? Pertanyaan itu yang selalu hadir dalam setiap langkah hidupku. Pengorbanan? Mungkin itu yang akan ku temaramkan dalam hati.

            Pagi itu, jam dua lebih lima mungkin. Ya. Aku terbangun dari mimpiku. Mengenang kembali dia yang telah pergi dalam buku harianku yang sudah lusuh terbawa kejamnya waktu yang selalu menghiasi hidupku yang lara.

            Kutulisi sepi, kuhujamkan mimpi dalam setiap kata.., entah sanjak ataupun puisi. Seperti seorang gadis yang disetiap hari selalu ku tangisi dalam nyata atau dalam mimpi. Dalam duka ataupun dalam suka, ketika bercanda dengan kupu-kupu ilusi di sudut-sudut kamarku yang hening. Karena pagi. Ya. Pagi, telah menemani dia yang telah pergi… meninggalkanku sendiri. Sendiri, tanpa istri lagi!

            Hanya ketika tidur. Melihatmu dalam mimpiku.mempunyaimu terus-menerus, berputar-putar seperti membalikanku di setiap putaran kehidupan. Entah kehidupanku sebelumnya. Tapi hanya dalam mimpiku.

            Pagi itu. Ya, pagi itu telah membawaku pada sebuah kenyataan. Istriku mati. Ya istri dalam ceritaku mati! Tapi ku tak mampu membawanya kembali. Karena ini bukan cerita nabi atau buku gipsi yang membawa cerita aneh penuh ilusi ataupun bisa dibilang fiksi suci, penuh kata-kata dari otak kiri.

            Bukuku telah lama kuhabisi dengan kata-kata dari otak kiri. Kemanakan otak kananku? Itulah yang penerbit inginkan.

            “Suci telah mati.” Kataku, sambil menyayatkan silet ke nadi. Tiba-tiba aku terbawa dalam cahaya entah dari mana dan kemudian kuterjebak dalam kaca sambil melihat api, entah. Seperti terjebak dalam buku! Dan dalam pikiranku terlintas kata dengan terus-menerus, “Terbitkan karyaku…. Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… Hi…hi…hi… UNTIL THE END OF TIME.

 

Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi & Orde positif.

June 16, 2013

Ada sebuah boneka yang didalam bahasa Cina disebut Pu Tao Ong, artinya tidak bisa jatuh. Kemana saja boneka itu didorong, selalu saja dia akan kembali ke posisi semula. Hal ini disebabkan boneka itu alasnya berat dan badannya sangat ringan. Dijungkir-balikkan pun dia tetap akan tegak kembali. Jadi boneka itu mempunyai daya keseimbangan yang tinggi sekali. Berbeda sekali dengan sifat tiang yang kita pancangkan tegak lurus. Bila oleh sesuatu sebab tiang itu miring sedikit, maka dia akan semakin doyong dan semakin cepat rubuh. Keseimbangan tiang pancang dan boneka itu berbeda secara principal. Yang satu tahan terhadap tarikan ke arah ekstrim kiri maupun kanan karena selalu kembali ke tengah, sedangkan yang lain adalah justru menjadi makanan empuk bagi ekstrem kiri maupun kanan.

 

Bahaya ekstrim tidak cukup ditangkal dengan ceramah, penataran tentang bahaya serta akibat-akibatnya atau malahan dengan menanamkan sikap kaku ekstrem tengah seperti tiang pancang. Masyarakat harus diajar dan diajak mengalami sendiri pentingnya balance dalam hidup fisik dan rohaninya. Baru dengan demikian akan tercipta ketahanan yang tangguh terhadap bahaya ekstrimisme dari manapun datangnya. Dari pengalaman belajar Pancasila bertahun-tahun, tampak jelas ternyata bahwa orang yang memandang Pancasila dengan kaku, biasanya secara rohani juga kurang supel dan mereka inilah yang sering bersikap ekstrem dalam pergaulan sehari-harinya. Kalau kita menanamkan sikap kestabilan tiang pancang, maka pada akhirnya yang sibuk adalah kita sendiri, karena kita harus selalu mengukur dan segera meluruskan kembali bila kita melihat suatu bagian dari masyarakat mulai sedikit miring. Pekerjaan kita pada akhirnya akan sia-sia seperti orang yang berusaha menjaring angin.

 

Semoga suatu saat orde reformasi mencapai tujuannya dan berakhir dan muncullah Orde POSITIF yang mengembalikan keluhuran dan kesaktian PANCASILA dan kemurnian UUD 1945 pada tempatnya. I see you when we get there….!!

 

TAFAKUR JAGAD

June 16, 2013

    Waktu seperti sebilah pedang bermata dua: 00:01, 01:02, 02:03, 03:04, 04:05, 05:06, 06:07, 07:08, 08:09, 09:10, 10:11, 11:12, 12:13, 13:14, 14:15, 15:16, 16:17, 17:18, 18:19, 19:20, 20:21, 22:23, 23:24, 01:23, 12:34, 23:45, 02:12, 12:12, 21:21, 21:22, 21:23, 21:24, 21:25, 21:26, 21:27, 21:28, 21:29, 22:12, 01:00, 02:01, 03:02, 04:03, 05:04, 06:05, 07:06, 08:07, 09:08, 10:09, 11:10, 12:11, 13:12, 14:13, 15:14, 16:15, 17:16, 18:17, 19:18, 20:19, 21:20, 22:21, 23:22, 19:45, 17:08, 20:09, 20:10, 20:11, 20:12, 20:13.

     Tafakur jagad untuk mendalami pertanyaan mengapa kita diciptakan di dunia. Pergunakanlah salah satu waktu di atas untuk bertafakur!! Dan yang paling penting, menjalankan rukun Islam dengan sebaik-baiknya.

 

Manusia & Agama

June 15, 2013
    Dalam masyarakat modern yaitu masyarakat yang telah maju, masyarakat yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam & dirinya melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan kepada kekuatan yang dianggap menguasai alam gaib dalam masyarakat sederhana, menjadi berkurang bahkan di beberapa bagian dunia menjadi hilang. Perkembangan pemikiran manusia terhadap diri & alam sekitarnya menjadi berubah, kemudian timbullah berbagai teori tentang hubungan ini. Salah satu teori yang banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan sosial adalah teori AUGUST COMTE yang terdapat dalam bukunya yang masyhur: Course de la Philosophie Positive (1842). August Comte menyebut tiga tahap perkembangan pemikiran manusia de lois des trois etat (tiga hukum perkembangan). Menurutnya pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap, yaitu (a) tahap teologik, (b) tahap metafisik, (c) tahap positif. Kerangka berpikir ini melahirkan filsafat positivisme di abad XIX, yang seperti telah disebutkan diatas, mempengaruhi ilmu pengetahuan sosial & humaniora (ilmu pengetahuan yang bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam pengertian membuat manusia lebih berbudaya dengan teologi, filsafat, hukum, sejarah, bahasa, kesusastraan & kesenian) di seluruh dunia, terutama social sciences. Menurut Comte, yang gaung pemikirannya sangat bergema dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, perkembangan pemikiran manusia selalu berangkat dari tahap yang paling rendah ke tahap yang paling tinggi atau kompleks. Namun, perlu segera dikemukakan bahwa teori August Comte itu tidak benar, sebab perkembangan pemikiran manusia tidaklah demikian. Dalam tahap ketiga, di periode positif di zaman (modern) sekarang ini, manusia masih tetap percaya pada Tuhan dan Metafisika, bahkan di Eropa dan Amerika cenderung kembali pada Tuhan atau ajaran Agama (yang disebut spiritualisme) di penghujung abad XX dan dalam abad XXI sekarang ini. Sekularisme yang berasal dari Inggris, menyebrang ke Eropa dan Amerika serta menjalar ke seluruh dunia, menopang teori August Comte tersebut.
    Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa agama, sangat perlu bagi manusia terutama bagi orang yang berilmu, apapun disiplin ilmunya. Sebabnya, karena dengan agama ilmunya akan lebih bermakna. Bagi kita umat islam, agama yang dimaksud adalah agama yang kita peluk yaitu agama ISLAM.
    Kenapa ISLAM?
    Sebabnya, karena agama ISLAM adalah agama akhir yang tetap mutakhir, agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat kauniyah (sunatullah) yang terbentang di alam semesta dan memahami ayat-ayat Qur'aniyah yang terdapat di dalam AL-QUR'AN, yang menurut penelitian Dr. Maurice Bucailla (1976), mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern.
 

INTERLUD (dari buku Einstein's Dreams karya ALAN LIGHTMAN)

June 3, 2013
EINSTEIN dan Besso duduk di perahu kecil yang ditambatkan dengan jangkar di tengah Aare. Besso menggigit sandwich kejunya, sementara Einstein mengisap pipanya dan dengan perlahan melempar umpan.
     "Apakah kau pernah menangkap sesuatu di sini, di tengah Aare?" tanya Besso. Ia tak pernah memancing bersama Einstein sebelumnya.
      "Tak pernah," jawab Einstein, sembari melanjutkan melempar umpan.
      "Mungkin sebaiknya kita pindah agak ke tepi, dekat alang-alang itu."
    "Bisa saja," ujar Einstein. "Disana aku juga tak pernah menangkap apa pun. Kau masih mempunyai sandwich di tasmu?"
     Besso mengulurkan sandwich dan bir pada Einstein. Ia sedikit merasa bersalah karena telah meminta Einstein agar  mengajaknya memancing di Minggu sore ini. Padahal, Einstein berencana memancing sendiri, untuk merenung.
     "Makanlah," kata Besso. "Kau perlu beristirahat sejenak setelah menarik-narik joran begitu."
     Einstein mengulurkan jorannya ke pangkuan Besso dan mulai mengunyah. Untuk sementara, dua teman itu berdiam diri. Satu perahu motor kecil melintas dan membuat ombak sehingga perahu yang mereka duduki terombang-ambing.
      Setelah makan siang, Einstein dan Besso memindahkan kursi-kursi yang ada di perahu dan berbaring dengan mata menatap langit. Hari ini, Einstein menyerah dengan urusan memancing.
       "Bentuk apa yang kau lihat di awan-awan itu, Michele?" tanya Einstein.
       "Aku melihat seekor domba mengejar orang yang sedang murung."
      "Kau manusia yang sangat praktis, Michele." Einstein menatap awan, tetapi pikirannya melayang pada proyeknya. Ia ingin bercerita pada Besso tentang mimpi-mimpinya, tetapi ia tidak bisa memulai.
    "Aku pikir kau akan berhasil dengan teorimu tentang waktu," kata Besso. "Dan ketika itu terjadi, kita akan memancing bersama dan kau bercerita padaku tentang hal itu. Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskannya padaku, di perahu ini."
    Einstein tertawa, dan awan-awan bergoyang karena tawanya.
      
     
 

Teori Relativitas Waktu

June 3, 2013
    Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya dan selama-lamanya.
     Bayangkan suatu dunia dimana hubungan sebab-akibat tidak tentu, terkadang yang kedua menjadi yang pertama. Atau, sebab selamanya berada di masa silam, sementara akibat berada di masa depan, namun masa depan dan masa silam saling berjalinan.
     Di dunia ini, waktu seperti aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gangguan kosmis akan menyebabkan anak sungai waktu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran sebelumnya. Ketika hal itu terjadi, burung-burung, tanah, orang-orang yang berada di anak sungai itu menemukan diri mereka tiba-tiba terbawa ke masa silam.
     Andaikan waktu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas, seperti cahaya malam yang menaungi pepohonan, saat bulan naik dan menyisiri garis-garis pohon. Waktu hadir, tetapi tak bisa diukur.
     Seperti saat ini, sore hari yang cerah,...
     Andaikan manusia hidup selamanya.

ps: Masa LALU adalah integral pecahan massa masa DEPAN. Dan masa KINI adalah Ledakan massa yang telah terintegrasi di masa LALU. Masa DEPAN adalah AKHIRAT....
 

LIMA ANNAM

May 28, 2013
(5)
di atas taman makam pahlawan
para dajjal mengembik
menyerbu perkebunan hidupku
yang terbakar putus asa
atau takdir

(6)
ada yang menyanyikan lagu-lagu dangdut
dalam sajak-sajakku
kegembiraan yang merangkak sedih
kesombongan berakhir menuju neraka
kebaikan menjelmakan diri dalam luka
dan pertempuran sengit
aku menyatakan perang kepada baik-buruk
dan pernyataan politik
sajak-sajak ditulis dengan nyawa
kuburan massal dibangun dalam tubuhku
menggerunjal
menggombal
menjagal-jagal
ditagih hutang dan ajal

Januari-September 2000
 

KARYA MATHORI A ELWA

May 28, 2013
234

(2)
serigala-serigala menunggang kuda
politik serupa bom molotov dan mitraliur
berabad-abad aku menguap
menampik bintang-bintang dan patung
bersujud menjulurkan tubuh hingga aku
menghancurkan diri sendiri
meledak sendirian

(3)
ada sepasukan berani musnah
membakar menggeliat menjilat-jilat
menyerbu dari got-got dan luka lama
menggempur negerimu
menggempur hatimu
tak ada laporan rahasia
tak ada upacara
tak ada rapat raksasa
tak ada orkes dan berita

(4)
di negeri paling ringsek yang kutemukan
gadis-gadis manis berperawakan raksasa
merayuku
ada lolong orang dalam jiwaku
menghardik memekik
meringkik-ringkik
minta dikawinkan


SURAT MALANG MELINTANG


    Sejak menulis surat bertinta air mata, sebuah surat sakti penggetar arsy, anak itu bopeng-bopeng, tak dapat bicara. Memar oleh luka. Luka oleh memar. (Membawa oleh-oleh memar dan luka). Hati yang teriris ridha. Matahari tak dapat menolong, apalagi penduduk desa, kota, propinsi, negara, malaikat. Dendam kesumat membuat semua berakhir musnah. Kebakaran tak dapat ditunda. Dihapusnya ratusan nama tak mudah-mudah, tak semudah menemukan dir dalam kubur. Anak-anak kami penjara dengan kata-kata jorok dan amarah. Ekonomi dan spiritualitas memisahkan diri dalam rumahnya. Sendiri. Sendiri. (Tanpa istri lagi?) Segerombolan pasukan bersenjata Allah mengamuk. Pembunuhan tak dapat dibendung. Agama adalah baju partai politik, bukan darah bukan jiwa. Semua berakibat semua terlibat dalam takdir. Ibunda tak lagi mengeluh. Dilepasnya anak panah kasih bagi anaknya yang tak pernah pulang. Bumi tersedu, pilu memanggul mayat aku. Langit menjerit menelan erangan hawa (nafas) nafsuku. Kiblat berjungkirbalik sesuai mimpi-mimpi. "Indahnya para penipu. Indahnya para penipu. Indahnya para penipu," begitulah wiridku. Sedangkan dalam sarang jiwaku masih mengeram gagak kepalsuan menampilkan diri sebagai merpati beranak-pinak janji, bercucu sok suci, bercicit susah, bersaudara air mata, berlaut bersamudera, berombak bergulung-gulung, bergemuruh mohon ampun...

Tertanda:
Mathori Alwustho
bin Moh. Abu Muslim
bin abdul Qodir

(1)
kuda-kuda hitam menyalak
dalam gelombang masyarakat yang gaduh
air mata membanjir dari pusat semedi
batu-batu pecah
semesta mengheningkan cipta
gelisah muntah
membelah
laut memerah
 

ZAKIYYATUL A'IMMAH

May 28, 2013
KARYA MATHORI A ELWA
Ditulis Ulang oleh ACHMAD MULYADI


kau tatap mataku
seperti sudah kau kenal aku
sebelum kita dilahirkan
padahal engkaulah belahan jiwaku

aku, manusia belepotan lumpur dan dosa
pura-pura tegar dan gagah
hancur berantakan membalas tatapan
dan senyummu

kugendong kupeluk orang
meski diammu meruntuhkan keperkasaanku
kuanggap itulah tidur abadimu
hingga suatu saat nanti
kita baru paham makna cinta sesungguhnya

meski hatiku sedang hancur
kubawakan juga untukmu hiburan
alakadarnya
tangkap maknanya
jangan rupa dan bodinya

yang kumintakan kini mungkin
beberapa ekor kambing entah dari mana
kelak aku hanyalah anak gembala
karena belum dikabulkan
kini terimalah diri yang hina
kambing laki-laki penuh nafsu birahi
kugembalakan diriku sendiri
jika tiba saatnya dikehendaki
siap kukurbankan diriku
asal hanya
untukmu, rabbi

oleh karena itulah
kupasrahkan segala yang tak
kauanugerahi aku kuasa mengurusnya
bahkan kupercayakan hanya padamu segala
hal
hingga perjumpaan
yang kaujanjikan itu terwujud adanya

8 Juli 2000

 

REPUBLIK BAGONG (N. RIANTIARNO)

April 25, 2013
DI MANA KAMU?

Di manakah lautan semua suara
Di manakah muara semua tanya
Jawab bertumpuk membatu karang
Pro-kontra, rangkul dan ganyang
Kawan-lawn, satria dan setan
Banyak pilihan yang disodorkan

Makin berkelit, semakin sulit
Makin merintih, semakin perih
Makin tak acuh, semakin kacau
Makin berlagk, semakin terjebak
Makin merenung, semakin bingung
Makin diam, semakin dilupakan

Tanpa bersuara, apakah kamu ada?
Semua melayang, hilang pegangan
Kamu dicari hingga ke sudut bumi
Di mana kamu, kebahagiaan sejati?
Kurindu seluruh wujudmu yang utuh
Kebahagiaan sejati, di mana kamu?

Kebahagiaan sejati, di mana kamu?


RAMALAN SEMAR

Dewa-dewa memilih dirinya sendiri
Dan para satria saling berkelahi
Yang Atas dan Tengah sama bobroknya
Yang Bawah binasa, jadi tumbal sia-sia

Bayangan Kalabendu mengancam semesta
Tiga Alam jadi dodol, kacau diaduk-aduk
Para SEMAR kehilangan tuah saktinya
Tiga makhluk lebih suka saling seruduk

Ramalan mkin jadi kenyataan
Semua upaya sia-sia. Sia-sia....



DI DALAM JURANG YANG SANGAT DALAM.
MALAM.
(BAGONG DAN NI PESEK TERGULING-GULING LALU PINGSAN. KETIKA SIUMAN)

NASIB BAGONG
(KOOR)

Rakyat kecil adalah Bagong
Selalu diburu-buru belati nasib
Rakyat kecil adalah Bagong
Jadi buangan, mati berkali-kali

Politik raja, kejam dan licik
Para satria jadi buta dan tuli
Rakyat cuma tumbal tanpa harga
Dihisap habis tulang sum-sumnya

Oo, rakyat kecil adalah Bagong
Rakyat kecil memang cuma Bagong

 

Pangandaran, 9 Juli 2006

April 25, 2013
Ku lihat awal semesta
Mungkinkah buah surga
atau keabadian cinta
bersama kita dalam dahaga
terpercik air dalam bayang-bayang
ombak yang tersibak,
kian durhaka.
Aku yang tanpa dosa
berenang menuju terumbu karang
tersiar kabar,
cinta itu dusta.
Tak dapat ku singkap dengan kata
dan mungkin semua ilusi semata.

 

METAFISIKA

April 12, 2013
    Sekitar 400-500 tahun yang silam, pertanyaan yang mendasar tentang 'semesta' dianggap berada di luar kawasan yang boleh disimak oleh sains. Newtao misalnya, berupaya menjelaskan tingkah laku segala hal di dalam semesta seperti penampakannya. Pada mulanya, Newton tidak berusaha untuk menjelaskan bagaimana atau mengapa semesta ada. Namun, saat ini wilayah kajian sains sudah merambah jauh ke dalam topik-topik yang dulunya hanya boleh disentuh oleh para filsup dan teolog. Fisika modern sedang berjalan di atas jalur untuk menyingkap realitas alamiah, sifat hidup, sampai asal mula semesta dan kehidupan.
    Lalu apa batasan yang jelas yang membedakan sains dan filosofi? Metafisika yang dulunya merupakan studi filosofi sudah menjadi bagian dalam fisika saat ini. Dengan demikian batasan tersebut sudah sedemikian kabur. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Untuk itu, kita harus mencoba untuk menengok sejarah pemikiran sains dengan kembali ke masa Aristoteles.
   Diantara banyak tulisan Aristoteles tentang filosofi dan sains terdapat dua karyanya yang sangat erat kaitannya dengan pencarian pemahaman tentang sifat semesta. Yang pertama adalah Physica (Fisika) dan yang kedua adalah Metaphysica (metafisika) yang akhirnya, saat ini telah menjadi bagian dari sesuatu yang disimak fisika. Sebagai contoh, pada tingkatan yang mendasar, partikel subatomik seperti elektron dan proton, sesuatu yang benar-benar tidak memiliki keberadaan riil bila tidak dipantau.
    Sementara itu dalam tulisan Stephen Hawking yang berjudul The Edge of Space-Time (Tepian Ruang-Waktu). Beliau menulis bahwa saat ini, para fisikawan memodelkan semesta dengan dua teori parsial dasar, yakni teori relativitas umum dan mekanika kuantum.
   Sekelompok mahasiswa fisika di Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat (USA) pernah menampilkan tableau singkat-singkat. Mereka mengangkat sebuah peti mati besar yang ditutup selembar kain hitam. Ketika kain disingkap tampak tulisan besar berbunyi: 'Physics has done.' Ya, fisika sudah selesai, telah berakhir. Tetapi, benarkah demikian?
   
 

Disco Lazy Time

April 12, 2013
    Kalau kita melayangkan pandangan kita ke langit malam nan cerah, mata kita akan bersua dengan kerdipan bintang-bintang nun jauh di sana yang seolah-olah memanggil kita untuk memahami dan menikmati keindahan yang ditebarkannya. Begitu jauhnya bintang-bintang itu, sehingga kita bertanya-tanya dalam hati: seberapa luaskah semesta raya ini? Lain waktu kita mengamati embun pagi hari yang satu-satu mulai lenyap diterpa panasnya sinar mentari yang merayap perlahan mendaki kaki langit. Kemanakah perginya tetes-tetes embun itu? Seberapa kecilkah materi dasar yang menyusun titik-titik air nan renik itu?
    Di sini kosmos besar dan kosmos kecil bertemu dengan manusia ada di antaranya. Bertanya dan bertanya dalam ketidaktahuan. Misteri menggelitik batinnya, adakah ia sedemikian penting sehingga seluruh eksotika ini dihadirkan di hadapannya oleh Sang Maha Pencipta.
      Lalu, apalagi yang lebih menarik dari pertanyaan paling mendasar yang senantiasa bergaung dalam sanubari kita: Dari manakah alam semesta (tentu termasuk kita manusia) berasal, dan ke manakah dia (dan kita) akan pergi? Bagaimana dan mengapa semesta ada? Semesta ini abadi atau akan berakhir? Seandainya berakhir, bagaimanakah semesta berakhir? Apa yang ada dan terjadi setelah akhir semesta? Bolehkah kita mengatakan akhir itu analog dengan kiamat? Seandainya semesta memiliki suatu awal, apa yang ada dan terjadi sebelum awal semesta? Lalu, bagaimanakah sifat waktu yang membuat hadirnya awal dan akhir, sebelum dan sesudah? Dan mengapa kita ada di sini untuk menyaksikan dan merenungkan kesemuanya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang harus kita gumuli dan renungkan kita dalam keseharian kita. Kita memang bergerak untuk mencoba mendapatkan jawabannya, namun sesungguhnya yang paling membuat kita tergetar dengan kegembiraan yang meluap adalah kalau kita semakin menyadari makna pertanyaan kita sendiri.
 

About Me

Achmad Mulyadi
Bandung (Paris Van Java)
Achmad Mulyadi

Categories

Make a free website with Yola